25 Mar 2019

Image may contain: ocean, sky, tree, outdoor, nature and water
Foto sedang meratapi nasib :p
Sumur, Banten, 2019

Sesungguhnya menulis tentang ini, saya cukup takut. Takut dikira tak bersyukur (takut juga sama atasan sih 😂), tapi bagaimanapun masyarakat awam harus tahu. Bahwa jalan kami tak mudah. Menjadi dokter sekarang susah. Kewajiban dan hak dokter kadang tak berimbang. Menjalankan sumpah dokter untuk melayani pasien saat kebutuhan primer sendiri tak terpenuhi dengan baik itu menyiksa.

Selepas selesai jadi dokter, saya mulai ngamen (bahasa untuk jaga klinik) di daerah jabodetabek. Banyak dokter yang seperti saya. Bak ninja, setiap 2-3 hari sekali kami berpindah tempat dari klinik ke klinik. Hari pertama di Tangerang, lalu di Depok, tiba-tiba besoknya di Cikarang, terus langsung ke Sukabumi atau Subang. Itu bisa saja terjadi dalam rute jaga klinik saya dalam satu dua minggu. Gaji klinik awalnya tak dipermasalahkan karena yang diutamakan adalah mencari ilmu daripada uang. Tapi lama-lama jadi tekor karena kadang kami tak digaji sepadan. Di beberapa klinik umum, kadang kami dibayar sepadan. Tapi di klinik BPJS, ada saja kisah sedihnya (tidak semua klinik ya). Saya harus menangani pasien kisaran 100-150 orang dalam sehari dengan tarif hanya tiga ribu-lima ribu perak per orang. Kasihan pasiennya karena saya tak maksimal melayani. Belum lagi pilihan obat yang tak beragam karena dibatasi dana sepuluh ribu perak.

Bicara gaji dokter dibawah standar IDI berdasarkan JDN indonesia, saya pun merasa sedih. Banyak orang ngamen di Jakarta karena di daerah gaji yang mereka terima sangat sedikit. Gajinya lebih rendah daripada tukang parkir? Emang bener. Tak hanya dokter, tenaga kesehatan lain pun begitu. Di tempat daerah internsip dulu, kakak-kakak perawat kontrak RS yang gajinya tak seberapa dirapel sampai dua-tiga bulan. Sedangkan kakak-kakak di puskesmas pun untungnya punya usaha yang lain. Kebanyakan mereka berdagang atau bertani bawang untuk menambah biaya hidup. Pokoknya kalau jadi tenaga kesehatan harus benar-benar kreatif karena nggak bisa ngandelin gaji doang (kayak musim kemarau panjang, hujan kepengnya jarang 😑)

Kakak-kakak perawat di klinik pun tak kalah sedihnya. Kalau mereka anak rantau, biasanya mereka disediakan mess, tapi ada juga yang tinggal sebatang kara. Gaji mereka dibawah UMR sedangkan kebutuhan banyak. Saya pun begitu. Kalau ngandelin gaji disatu tempat aja ya susah. Jadi akhirnya saya jaga di beberapa klinik untuk bantu-bantu ekonomi keluarga. Boro-boro mikir sekolah (duilehpreeettt# 😂)

Bicara hal ini cukup sulit. Ada yang bilang tenaga kesehatan itu sekarang perhitungan. Apa-apa uang. Pengen saya gigit sampai berdarah orang-orang yang ngomong begitu! 😡 Coba Anda bayangkan kalau jadi kami, gajinya dirapel dan pasiennya banyak. Sedangkan posisi Anda adalah kepala keluarga yang harus menafkahi banyak orang, atau Anda single parent yang tidak bisa bergantung sama siapa-siapa, atau mungkin Anda sebatang kara. Empatilah sedikit terhadap tenaga kesehatan. Kalau diflashback banyak sekali dana yang dikeluarkan orang tua untuk menyekolahkan kami diprofesi ini. Mereka berharap kami menjadi sejahtera tapi kenyataannya tak seelok yang dibayangkan.

Saya bicara ini bukan manja atau apa, tapi tolonglah tenaga kesehatan dihargai. Tak mungkin kami melayani pasien dengan maksimal sedangkan untuk makan-minum saja mesti mikir. Apalagi kalau pasien membludak dan ketemu keluarga pasien yang 'njelimet'. Fisik dan mental kami makin terkuras. 😥

Dari curahan hati diatas, sebenarnya harapan saya sederhana. Saya masih jauh dari dokter yang ideal dan masih berusaha menjadi salah satunya. Tapi tolong perhatikan hak kami juga.

Dear stakeholder tercinta,
bisakan memanusiakan kami dengan gaji yang layak dan tepat waktu?
bisakan membuat kami bekerja dalam sistem yang 'sehat' supaya tenaga kesehatan dan pasien sama-sama senang?

Ah, saya masih percaya sistem yang membelenggu ini dapat berubah. Mudah-mudahan, entah kapan.

--Ditulis juga di akun facebook saya, 10 Februari 2019.

24 Jan 2019



Ismail Marzuki merupakan seorang Komponis Besar Indonesia. Ismail Marzuki yang lahir pada tahun 1914 telah  memulai karir musiknya sejak usia 17 tahun. Mendengar karya musikus yang satu ini, tentunya kita tak bisa lupa lagu-lagu Indonesia ciptaannya yang terkenal seperti Halo-Halo Bandung, Indonesia Pusaka, Rayuan Pulau Kelapa, dan Wanita. Banyak yang tak tahu bahwa dia telah mengarang hampir kurang lebih 300 karya yang telah didokumentasikan oleh anaknya sendiri, Rachmi Aziah. Karyanya telah dikenal luas dan dianggap berjasa dalam dunia permusikan Indonesia. Namanya pun diambil menjadi nama salah satu pusat seni di Jakarta, Taman Ismail Marzuki.

Pada 13 Januari 2019 lalu, saya diberikan kesempatan sebagai blogger untuk menyaksikan suatu konser musik bertemakan Millennial Marzukiana yang diadakan di Ciputra Artpreneur Theater Jakarta. Dari namanya, kita sudah bisa menyimpulkan bahwa konser ini mengusung karya-karya musik dari Ismail Marzuki. Acara ini merupakan konser amal hasil kolaborasi dari pihak KAYA.ID yang menggandeng pianist dan komposer kenamaan Indonesia, yang tak lain adalah Ananda Sukarlan.

Wait, Ananda Sukarlan?
Pucuk dicinta ulam pun tiba!
Dia adalah orang yang dari dulu ingin saya dengar langsung karyanya.

Singkat cerita, beliau ini merupakan pianist favorit ibu saya. Dari kelas 4 SD, ibu meminta saya untuk les piano musik klasik. Mereka pecinta segala jenis musik dan ingin anaknya menguasai minimal satu alat musik. Dari kecil, saya selalu dibilangi begini. “Tuh Ghe, jadi pianis kayak dia. Keren!” Sayangnya saya harus berhenti les piano saat SMA karena bosan dan ingin fokus ke pendidikan formal.

Ini kesempatan emas yang tak boleh dilewatkan. Kapan lagi nonton konser musiknya Ananda Sukarlan? Sebelum berangkat nonton, saya bahkan memanas-manasi ibu karena saya yang akhirnya bisa nonton live pianist favoritnya.

Tepat pukul 4 sore, konser musik ini dimulai.

Acara dibuka dengan musik dari Opera Erstwhile dimana Ananda Sukarlan berkolaborasi dengan dua musikus milenial yang masih berusia 20an, Mariska Setiawan dan Aryo Pradhita. Perpaduan suara antara soprano dan tenor pada lagu ini selaras dan membuat saya terkagum sekaligus merinding saat mendengarnya.

Mulai dipertengahan acara, Ananda Sukarlan mulai memainkan musik Indonesia. Saya sangat terkesan ketika orkestra musik mengiringi cerita tentang Malin Kundang. Sang narator yang membawakan cerita si Malin Kundang, Handry Satriago, sangat menjiwai dan ekspresif dalam bercerita. Narasi ini makin apik karena dipermanis dengan pengantar musik yang mampu menggugah perasaan penonton sehingga inti cerita benar-benar tersampaikan. Lagu nostalgia sewaktu saya kecil juga dimainkan sebagai backgroundnya, Gelang Sipaku Gelang. Saya selalu menyanyikan lagu ini ketika pulang dari taman kanak-kanak dulu. Lagu yang juga berasal dari Sumatra Barat ini digubah dan dimainkan dalam irama musik yang bevariasi sesuai suasana.

Setelah intermission, Ananda Sukarlan Orkestra mulai memainkan Concerto Marzukiana no. 2. Lagu-lagu terkenal dari Ismail Marzuki mulai dimainkan dari Wanita, Gugur Bunga, dan Halo-Halo Bandung. Alunan musik ini diperkaya oleh alunan biola dari Finna Kurniawati. Selanjutnya, dalam
Concerto Marzukiana no. 3, lagu Melati di Tapal Batas dinyanyikan oleh orkestra bersama Jessica Sudharta, sang harpis muda berbakat dari Surabaya.

Concerto Marzukiana no. 1 menjadi lagu yang terakhir dimainkan. Medley Selendang Sutra dan Indonesia Pusaka dimainkan dengan anggun dan penuh khidmat. Saya selalu terharu jika lagu kebangsaan ini diputar. Rasa nasionalisme terhadap Indonesia seakan tergugah untuk bangkit. Tak terasa mata saya berkaca-kaca dan hati saya penuh saat mendengarkan Indonesia Pusaka. Permainan orkestra ini menjadi lebih cantik karena diiringi musik piano Anthony Hartono, sang pianist muda berbakat yang masih berumur 23 tahun.


Konser tersebut sukses dihadiri oleh banyak pihak duta besar dari 12 negara dan hadir juga tamu kehormatan, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno Marsudi. Dengan adanya konser “Millennial Marzukiana”, sebuah karya anak bangsa dari Ananda Sukarlan, diharapkan masyarakat utamanya generasi zaman sekarang dapat lebih mengenal karya musikus Indonesia, salah satunya Ismail Marzuki.

Semoga dengan mengenal dan mencintai musik Indonesia, rasa nasionalisme kita semakin besar dan kita makin mencintai Indonesia.
 

Copyright 2010 my piece of mind.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.