29 Okt 2010

Setelah sebulan mengitari pulau Madura sampai ke kepulauan kecilnya, Pulau Kangean, akhirnya saya kembali ke kota besar di Jawa Timur ini, Surabaya. Kota ini sudah tidak asing lagi bagi kita. Saya mendarat di kota ini akhir Juli kemarin. Setibanya di Surabaya, saya langsung menuju Surabaya Pusat tepatnya Asrama Haji Surabaya. Saya akan menginap disini selama seminggu karena disini saya mempunyai sanak saudara. Alhamdulillah, karena koneksi, saya mendapatkan satu kamar asrama haji dengan sepuluh tempat tidur plus AC, berasa hotel! Tidak mau berlama-lama, sore itu juga, saya langsung pergi berkeliling Surabaya dengan motor. Melihat jalan-jalan di Surabaya yang nyaris seperti jalan protokol semua seperti Jalan Jenderal Sudirman Jakarta membuktikan bahwa penataan kota Surabaya sangat rapi dan bersih, tidak seperti kota-kota besar yang saya lihat. Persinggahan pertama saya adalah tempat kuliner legendaris Surabaya bahkan dari zaman penjajahan Belanda. Es Krim Zangrandi. Tempat ini terletak di pusat Kota Surabaya, Jalan Yos Sudarso Disini kita dapat mencoba berbagai macam jenis es krim dengan harga yang terjangkau. Benarkah? Ya, cukup dengan membawa uang 10-20 ribu rupiah, kita sudah bisa menikmati satu porsi es krim lezat. Tidak hanya kelezatan dan kemurahannya, tempat dimana Zangrandi berdiri pun merupakan bangunan zaman arsitektur Belanda. Nama tempat ini diambil dari nama pendirinya, Renato Zangrandi, orang Italia, pada Dari tempat es krim Zangrandi, kita juga dapat melihat Monumen Jenderal Sudirman. Jika anda menonton Nagabonar Jadi 2, ada satu adegan dimana Nagabonar memanjat patung Jenderal Sudirman, nah itulah monumen yang saya maksud.

Perjalanan ini masih panjang. Keesokan harinya, saya mulai berpetualang sendiri. Pilihan terbaik dalam menempuh perjalanan di kota besar dengan kondisi uang pas-pasan adalah naik angkutan umum. Berbeda dengan daerah lain yang menyebut angkutan umum angkot (Jakarta dan sekitarnya), pete-pete (Makassar), angkutan umum Surabaya dinamakan Len. Perjalanan pertama saya hari itu menuju ke KBS (Kebun Binatang Surabaya.) Untuk mencapai tempat ini, kita hanya perlu menceri len O yang menuju Terminal Joyoboyo dan KBS berada tidak jauh dari terminal. Tiket masuk KBS seharga 15 ribu rupiah. Ketika masuk, kita diwajibkan memakai gelang kertas KBS yang dipakai. Berbagai macam jenis wisata dapat kita lihat. Ada juga gedung akuarium yang memuat berbagai macam ikan tawar dan laut. Dengan melihat berbagai macam jenis satwa yang ditawarkan, rasanya tidak rugi untuk membayar tiket masuk KBS. Saya puas. Masalah fasilitas, tidak sekalah Ragunan maupun Taman Safari di Jakarta. Akan tetapi, baru-baru ini, KBS menjadi berita yang sering dibicarakan di media. Banyak satwa langka yang mati dan terurus karena konflik internal pejabat KBS. Ini cukup membuat saya miris karena kebun binatang ini merupakan salah satu cara konservasi satwa untuk melindunginya dari kepunahan, namun sekarang harus kehilangan fungsinya karena kinerja pegawai sehingga menurunkan kualitas KBS.

Tempat wisata yang saya datangi tidak hanya KBS, akan tetapi House of Sampoerna (HOS). Rumah ini berisi tentang sejarah keluarga yang membangun perusahaan rokok. Pernah dengar? Liem Seeng Tsee merupakan pendiri rokok Sampoerna kretek. HOS ini terbuka untuk umum dan gratis. Layaknya seperti museum, HOS ini menceritakan perjalanan tentang pendirinya dalam mendirikan usaha rokok. Pertama kalinya masuk HOS, kita langsung mencium aroma cengkeh yang kental. Di ruang depan, kita bisa lihat jenis-jenis cengkeh yang dipakai untuk melinting rokok dan alat-alat yang dipakai Liem Seeng Tsee seperti gerobak rokok dan sepeda yang dipakai untuk menjual tembakau. Sedangkan di ruangan tengah dan dalam, terdapat banyak foto komisaris dan petinggi-petinggi lainnya Sampoerna dari masa ke masa. Disini kita bisa tahu proses melinting rokok. Di lantai dua, kita bisa temukan toko souvenir dan basement yang dipenuhi sekitar dua ratus pekerja pelinting rokok. Saya kaget melihat betapa lincahnya jemari pekerja itu melinting rokok, Bayangkan, setiap pekerja bisa memproduksi 325 batang rokok per jam. Jadi kira-kira untuk semua pekerja bisa memproduksi sekitar 65000 batang rokok per jam! Di luar House of Sampoerna, terdapat Surabaya Herritage Tour (SHS) dimana pada jam-jam tertentu ada bus yang mengantarkan kita ke salah satu tempat wisata dan mengetahuinya lebih dalam. Sayangnya, saya kurang beruntung saat itu karena bus SHSnya sudah penuh. Selanjutnya destinasi saya, Monumen Pahlawan dan Museum Sepuluh November. Untuk mencapainya dari House of Sampoerna, kita dapat pergi dengan becak harga enam ribu rupiah. Untuk masuk ke Museum Sepuluh November, kita hanya membayar dua ribu rupiah. Dalam museum, kita dapat mendengar rekaman asli pidato Bung Tomo dan terdapat banyak diorama perjuangan rakyat Surabaya kala masa kemerdekaan.

Keesokan harinya, karena hari Jum`at, saya memutuskan wisata relijius ke beberapa tempat, diantaranya mesjid Ampel dan mesjid Cheng Hoo. Untuk masuk ke mesjid Ampel, hendaknya kita sebagai muslim khususnya perempuan memakai jilbab supaya lebih kelihatan sopan. Saya, yang saat itu lupa membawa jilbab, terpaksa memakai jaket hoodies untuk menutup kepala saya. Hari itu banyak pengunjung yang datang. Di Makam Sunan Ampel, banyak orang yang datang membaca doa-doa. Tak jauh dari makam, terdapat banyak gentong-gentong air yang bisa diminum yang berasal dari sumur yang digali murid Sunan Ampel. Khasiat? Setelah bertanya pada salah satu penjaga mesjid, Pak Matori, tidak ada khasiat apa-apa. Gentong itu disediakan hanya untuk orang yang haus, tidak ada yang spesial. Setelah mengunjungi Ampel, saya langsung pergi mencari mesjid Cheng Hoo. Untuk mencarinya, tidak perlu susah. Anda tinggal mencari len menuju Taman Remaja Surabaya (TRS). Mesjid Cheng Hoo berada tidak jauh dari TRS, kita hanya perlu berjalan ke seberang sedikit. Mesjid Cheng Hoo terletak di Jalan Gading no. 1 Surabaya. Kebetulan sekali, ketika saya datang, waktu shalat telah masuk Ashar, saya memutuskan untuk ikut shalat berjamaah disana. Saat itu, mesjid sedang dalam masa renovasi. Meski bagian dalam mesjid berukuran kecil, arsitektur bangunannya tiongkoknya begitu terasa. Disini kita juga bisa membeli buku kamus kecil Tionghoa, hanya dengan dua ribu rupiah, kita bisa belajar kosakata dasar bahasa Mandarin.

Sebenarnya bukan hanya tempat-tempat wisata saja yang saya kunjungi, rumah sakit dr. Soetomo juga saya kunjungi. Rumah sakit ini juga dikenal sebagai rumah sakit Karang Menjangan. Rumah sakitnya menempati satu jalan dari ujung ke ujung! Lebih besar dari RSCM, Jakarta. Tidak hanya itu, rumah sakit ini terdiri dari beberapa bangunan diantaranya Instalasi Rawat Jalan, Instalasi Rawat Inap, Graha Amerta, dan Gedung Bedah Pusat Terpadu (GBPT). Melihat fasilitas yang tercukupi, pantas kalau RS dr. Soetomo menjadi rujukan pusat daerah timur. Tidak hanya itu, beberapa kasus medis kontroversial yang sering muncul di TV dirujuk ke rumah sakit ini.

Selain tempat wisata dan rumah sakit, saya juga mengunjungi beberapa mal Surabaya juga menjadi tujuan destinasi saya. Surabaya Plaza, Pasar Atum Mall, dan Tunjungan Plaza yang merupakan mal terbesar di Surabaya pun saya kunjungi. Akan tetapi, bagi backpacker seperti saya, buying experiences is more fun than buying things. Disamping harus menghemat untuk perjalanan selanjutnya, jadinya saya hanya melihat-lihat saja. Oiya, tepat di sebelah Surabaya Plaza, jangan lupa untuk mengunjungi Monumen Kapal Selam Dan jika anda ke Pasar Atum, pergilah ke lantai yang paling bawah, bagian pasar tradisional. Disana kita bisa mendapatkan kios Cakue Peneleh yang wajib dijadikan wisata kuliner di Surabaya. Makanan andalan kios Cakue Peneleh yang wajib dicoba adalah cakue udang, roti goreng, dan bakpau daging. Masalah rasa dan harga? Mantap, maknyus, dan tidak bikin kanker [red: kantong kering]. Tidak hanya itu, berbagai jajanan tradisional Jawa Timur murah dan enak yang diperjualbelikan. Jadi persiapkanlah perut anda jika mengunjungi Pasar Atum. Selain sebagai kota wisata dan kota belanja, Surabaya juga menjadi surga makanan bagi pecinta kuliner. Rujak cingur, lontong balap dan sate kerang, bebek goreng, nasi pecel Ponorogo Bu Soeyatin, dan Spesialis Belut Surabaya bisa menjadi menu kuliner yang bisa dicoba selama berwisata di Surabaya.

Sekilas tentang perjalanan backpacking saya di Surabaya. Surabaya adalah kota yang bagus untuk tujuan liburan anda! So, ada yang mau ikut dengan saya untuk backpacking selanjutnya?

 

Copyright 2010 my piece of mind.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.