Tampilkan postingan dengan label HOLIDAYS COMING. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HOLIDAYS COMING. Tampilkan semua postingan

16 Jun 2017

Entah mengapa tiba-tiba terlintas saya pingin ke Nepal. 

Where is Nepal? 
Nepal is near to India and Bangladesh. And there is Himalaya too. 

Mungkin karena saya mupeng kali ya ngeliat ada beberapa teman difacebook yang posting liburannya yang baru aja ke Nepal. Rasa tambah mupeng saya bertambah dari tahun ke tahun sejak saya baca buku Titik Nol-nya Agustinus Wibowo. 

Saya pingin ke Kathmandu, ke Pokhara. 
Saya juga pingin ke Annapurna Sanctuary, 4130 mdpl. 
Doakan saya juga untuk bisa melewati India, Negara yang saya cinta mati film Bollywoodnya (bukan serial India yang ditayangin di Antv ya), tapi begitu ditakuti banyak traveler. 

Insya Allah, tahun ini. Amin.

12 Jul 2016

Rumah adalah tempat pulang ternyaman yang dirindukan seorang perantau. 
Banyak hal mustahil yang cuma bisa dilakukan kalau saya dirumah.
1. 19 jam tidur non-stop
2. Makan makanan mbak yang enak + request makanan yang mau dimakan besok
3. Tidur sama tiga adek dalam satu tempat tidur kayak pepes
4. Gigit badannya sibungsu kesayangan, saking gemesnya
5. Jalan-jalan sama si bebek mio keliling bekasi

Lucunya beberapa tahun ini, saya selalu berpikir untuk tidak pulang. Kenapa? karena sudah kurang lebih delapan tahun saya tidak berdomisili dirumah, menjadi manusia perantau diluar sana, absen dari segala apa yang terjadi ada dirumah. Kadang saya merasa Im being left. Di rumah, adik-adik yang sebaya dengan saya sedang menikmati dunianya masing-masing. Mereka passionate dengan cerita-cerita kehidupannya. Seketika saya merasa tertinggal. Seakan-akan hidup saya tidak terasa maju. Saya kembali sadar penuh bahwa saya dibelenggu pendidikan kedokteran yang amat berbeda dengan pendidikan non-kedokteran lainnya. Mau tak mau personal life saya tidak jauh-jauh dari itu semua.
Ah, kadang saya merasa monoton sekali hidupku  -.-

Tapi agak berbeda dengan tahun ini. Saya beneran mau pulang. Kebetulan karena jadwal poli di rs enrekang ketika idul fitri libur 1 minggu dan saya rasa bakal krik-krik kalau stand by sendirian di asrama, saya memutuskan pulang. Tahun ini, saya memutuskan untuk lebih terbuka dan menyikapi perubahan dengan lebih enjoy. Kehidupan rumah selama saya tidak ada, kehidupan adik-adik saya, keadaan mama dan papa saya, saya coba mendalami apa yang terjadi selama ini. I try to change mindset so home is not a word that makes me creepy in this age. hahaha

Pikiran malas ditanya-tanya pas lebaran juga saya mulai sikapi dengan tenang. Adik-adik yang punya pacar duluan, lakinya dibahas satu-satu sama keluarga. Pas saya ditanya, udah ada yang deket? Mana pacarnya? Saya senyum, “Coba buka gugel, ketik afgan, itu pacar saya sekarang. Dia lagi sibuk persiapan konser sekarang.” Seketika semua ketawa. Hahaha. Saya orangnya memang tidak bisa serius. Kadang pertanyaan-pertanyaan menjebak seperti ini cuma perlu dibalas dengan air tuba..  unsur jawaban komedi.

Adalagi yang nanya kapan kerudungan? Bukannya udah janji mau berhijab? Saya senyum saja, "Saya nggak pernah janji apa-apa tante. Doain aja biar dapat hidayah tan. Amin."

Sometimes, ada saatnya ego saya cukup tinggi, ngerasa nggak butuh rumah untuk pulang. Pikiran itu kadang tercipta kalau lagi ngefly-ngeflynya traveling atau ego hidup mandiri saya lagi tinggi. Tapi kalau sudah sampai di antiklimaks, ya tiba-tiba kangen lagi, saya butuh tempat pulang, ya rumah.

Bagi perantau atau pejalan kayak saya, rumah adalah persinggahan pulang, tempat melepas penat dan lelah,   tempat yang dapat menerima kamu apa adanya dengan tangan terbuka. Rumah adalah tempat yang netral ketika kamu punya masalah, tempat dimana kita bisa menjadi diri sendiri tanpa harus merasa terhakimi. Jadi pulanglah wahai para perantau kalau masih ada waktu untuk pulang. Toh kamu nggak tahu, mungkin ini jadi  lebaran terakhir kamu atau orang terdekat kamu. We'll never know what's going on next.

So, this Lebaran day, I’m glad to be home. 
Oiya, ijinkan saya mengucapkan Selamat Idul Fitri, Minal Aidin Wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin.

Kami mengucapkan Selamat Hari Raya. Mohon Maaf Lahir dan Batin! :)
(fotonya kurang papa yang masih asik pergi itikaf)

Mama dan dayang-dayangnya. We love you, Mom!

Ketika The Sisters 3G berkumpul! 

29 Okt 2010

Setelah sebulan mengitari pulau Madura sampai ke kepulauan kecilnya, Pulau Kangean, akhirnya saya kembali ke kota besar di Jawa Timur ini, Surabaya. Kota ini sudah tidak asing lagi bagi kita. Saya mendarat di kota ini akhir Juli kemarin. Setibanya di Surabaya, saya langsung menuju Surabaya Pusat tepatnya Asrama Haji Surabaya. Saya akan menginap disini selama seminggu karena disini saya mempunyai sanak saudara. Alhamdulillah, karena koneksi, saya mendapatkan satu kamar asrama haji dengan sepuluh tempat tidur plus AC, berasa hotel! Tidak mau berlama-lama, sore itu juga, saya langsung pergi berkeliling Surabaya dengan motor. Melihat jalan-jalan di Surabaya yang nyaris seperti jalan protokol semua seperti Jalan Jenderal Sudirman Jakarta membuktikan bahwa penataan kota Surabaya sangat rapi dan bersih, tidak seperti kota-kota besar yang saya lihat. Persinggahan pertama saya adalah tempat kuliner legendaris Surabaya bahkan dari zaman penjajahan Belanda. Es Krim Zangrandi. Tempat ini terletak di pusat Kota Surabaya, Jalan Yos Sudarso Disini kita dapat mencoba berbagai macam jenis es krim dengan harga yang terjangkau. Benarkah? Ya, cukup dengan membawa uang 10-20 ribu rupiah, kita sudah bisa menikmati satu porsi es krim lezat. Tidak hanya kelezatan dan kemurahannya, tempat dimana Zangrandi berdiri pun merupakan bangunan zaman arsitektur Belanda. Nama tempat ini diambil dari nama pendirinya, Renato Zangrandi, orang Italia, pada Dari tempat es krim Zangrandi, kita juga dapat melihat Monumen Jenderal Sudirman. Jika anda menonton Nagabonar Jadi 2, ada satu adegan dimana Nagabonar memanjat patung Jenderal Sudirman, nah itulah monumen yang saya maksud.

Perjalanan ini masih panjang. Keesokan harinya, saya mulai berpetualang sendiri. Pilihan terbaik dalam menempuh perjalanan di kota besar dengan kondisi uang pas-pasan adalah naik angkutan umum. Berbeda dengan daerah lain yang menyebut angkutan umum angkot (Jakarta dan sekitarnya), pete-pete (Makassar), angkutan umum Surabaya dinamakan Len. Perjalanan pertama saya hari itu menuju ke KBS (Kebun Binatang Surabaya.) Untuk mencapai tempat ini, kita hanya perlu menceri len O yang menuju Terminal Joyoboyo dan KBS berada tidak jauh dari terminal. Tiket masuk KBS seharga 15 ribu rupiah. Ketika masuk, kita diwajibkan memakai gelang kertas KBS yang dipakai. Berbagai macam jenis wisata dapat kita lihat. Ada juga gedung akuarium yang memuat berbagai macam ikan tawar dan laut. Dengan melihat berbagai macam jenis satwa yang ditawarkan, rasanya tidak rugi untuk membayar tiket masuk KBS. Saya puas. Masalah fasilitas, tidak sekalah Ragunan maupun Taman Safari di Jakarta. Akan tetapi, baru-baru ini, KBS menjadi berita yang sering dibicarakan di media. Banyak satwa langka yang mati dan terurus karena konflik internal pejabat KBS. Ini cukup membuat saya miris karena kebun binatang ini merupakan salah satu cara konservasi satwa untuk melindunginya dari kepunahan, namun sekarang harus kehilangan fungsinya karena kinerja pegawai sehingga menurunkan kualitas KBS.

Tempat wisata yang saya datangi tidak hanya KBS, akan tetapi House of Sampoerna (HOS). Rumah ini berisi tentang sejarah keluarga yang membangun perusahaan rokok. Pernah dengar? Liem Seeng Tsee merupakan pendiri rokok Sampoerna kretek. HOS ini terbuka untuk umum dan gratis. Layaknya seperti museum, HOS ini menceritakan perjalanan tentang pendirinya dalam mendirikan usaha rokok. Pertama kalinya masuk HOS, kita langsung mencium aroma cengkeh yang kental. Di ruang depan, kita bisa lihat jenis-jenis cengkeh yang dipakai untuk melinting rokok dan alat-alat yang dipakai Liem Seeng Tsee seperti gerobak rokok dan sepeda yang dipakai untuk menjual tembakau. Sedangkan di ruangan tengah dan dalam, terdapat banyak foto komisaris dan petinggi-petinggi lainnya Sampoerna dari masa ke masa. Disini kita bisa tahu proses melinting rokok. Di lantai dua, kita bisa temukan toko souvenir dan basement yang dipenuhi sekitar dua ratus pekerja pelinting rokok. Saya kaget melihat betapa lincahnya jemari pekerja itu melinting rokok, Bayangkan, setiap pekerja bisa memproduksi 325 batang rokok per jam. Jadi kira-kira untuk semua pekerja bisa memproduksi sekitar 65000 batang rokok per jam! Di luar House of Sampoerna, terdapat Surabaya Herritage Tour (SHS) dimana pada jam-jam tertentu ada bus yang mengantarkan kita ke salah satu tempat wisata dan mengetahuinya lebih dalam. Sayangnya, saya kurang beruntung saat itu karena bus SHSnya sudah penuh. Selanjutnya destinasi saya, Monumen Pahlawan dan Museum Sepuluh November. Untuk mencapainya dari House of Sampoerna, kita dapat pergi dengan becak harga enam ribu rupiah. Untuk masuk ke Museum Sepuluh November, kita hanya membayar dua ribu rupiah. Dalam museum, kita dapat mendengar rekaman asli pidato Bung Tomo dan terdapat banyak diorama perjuangan rakyat Surabaya kala masa kemerdekaan.

Keesokan harinya, karena hari Jum`at, saya memutuskan wisata relijius ke beberapa tempat, diantaranya mesjid Ampel dan mesjid Cheng Hoo. Untuk masuk ke mesjid Ampel, hendaknya kita sebagai muslim khususnya perempuan memakai jilbab supaya lebih kelihatan sopan. Saya, yang saat itu lupa membawa jilbab, terpaksa memakai jaket hoodies untuk menutup kepala saya. Hari itu banyak pengunjung yang datang. Di Makam Sunan Ampel, banyak orang yang datang membaca doa-doa. Tak jauh dari makam, terdapat banyak gentong-gentong air yang bisa diminum yang berasal dari sumur yang digali murid Sunan Ampel. Khasiat? Setelah bertanya pada salah satu penjaga mesjid, Pak Matori, tidak ada khasiat apa-apa. Gentong itu disediakan hanya untuk orang yang haus, tidak ada yang spesial. Setelah mengunjungi Ampel, saya langsung pergi mencari mesjid Cheng Hoo. Untuk mencarinya, tidak perlu susah. Anda tinggal mencari len menuju Taman Remaja Surabaya (TRS). Mesjid Cheng Hoo berada tidak jauh dari TRS, kita hanya perlu berjalan ke seberang sedikit. Mesjid Cheng Hoo terletak di Jalan Gading no. 1 Surabaya. Kebetulan sekali, ketika saya datang, waktu shalat telah masuk Ashar, saya memutuskan untuk ikut shalat berjamaah disana. Saat itu, mesjid sedang dalam masa renovasi. Meski bagian dalam mesjid berukuran kecil, arsitektur bangunannya tiongkoknya begitu terasa. Disini kita juga bisa membeli buku kamus kecil Tionghoa, hanya dengan dua ribu rupiah, kita bisa belajar kosakata dasar bahasa Mandarin.

Sebenarnya bukan hanya tempat-tempat wisata saja yang saya kunjungi, rumah sakit dr. Soetomo juga saya kunjungi. Rumah sakit ini juga dikenal sebagai rumah sakit Karang Menjangan. Rumah sakitnya menempati satu jalan dari ujung ke ujung! Lebih besar dari RSCM, Jakarta. Tidak hanya itu, rumah sakit ini terdiri dari beberapa bangunan diantaranya Instalasi Rawat Jalan, Instalasi Rawat Inap, Graha Amerta, dan Gedung Bedah Pusat Terpadu (GBPT). Melihat fasilitas yang tercukupi, pantas kalau RS dr. Soetomo menjadi rujukan pusat daerah timur. Tidak hanya itu, beberapa kasus medis kontroversial yang sering muncul di TV dirujuk ke rumah sakit ini.

Selain tempat wisata dan rumah sakit, saya juga mengunjungi beberapa mal Surabaya juga menjadi tujuan destinasi saya. Surabaya Plaza, Pasar Atum Mall, dan Tunjungan Plaza yang merupakan mal terbesar di Surabaya pun saya kunjungi. Akan tetapi, bagi backpacker seperti saya, buying experiences is more fun than buying things. Disamping harus menghemat untuk perjalanan selanjutnya, jadinya saya hanya melihat-lihat saja. Oiya, tepat di sebelah Surabaya Plaza, jangan lupa untuk mengunjungi Monumen Kapal Selam Dan jika anda ke Pasar Atum, pergilah ke lantai yang paling bawah, bagian pasar tradisional. Disana kita bisa mendapatkan kios Cakue Peneleh yang wajib dijadikan wisata kuliner di Surabaya. Makanan andalan kios Cakue Peneleh yang wajib dicoba adalah cakue udang, roti goreng, dan bakpau daging. Masalah rasa dan harga? Mantap, maknyus, dan tidak bikin kanker [red: kantong kering]. Tidak hanya itu, berbagai jajanan tradisional Jawa Timur murah dan enak yang diperjualbelikan. Jadi persiapkanlah perut anda jika mengunjungi Pasar Atum. Selain sebagai kota wisata dan kota belanja, Surabaya juga menjadi surga makanan bagi pecinta kuliner. Rujak cingur, lontong balap dan sate kerang, bebek goreng, nasi pecel Ponorogo Bu Soeyatin, dan Spesialis Belut Surabaya bisa menjadi menu kuliner yang bisa dicoba selama berwisata di Surabaya.

Sekilas tentang perjalanan backpacking saya di Surabaya. Surabaya adalah kota yang bagus untuk tujuan liburan anda! So, ada yang mau ikut dengan saya untuk backpacking selanjutnya?

1 Okt 2010



Sudah pernah mendengar Kangean?

pulau ini pasti terdengar asing untuk orang-orang Sulawesi, bahkan orang Jawa pun kadang tidak mengetahui letak pulau ini. Saya baru saja backpacking dari sana, tepatnya pertengahan Juli lalu. Kangean merupakan pulau yang terletak di sebelah Madura. Pulau Kangean merupakan pulau kecil yang termasuk dalam kabupaten Sumenep, Madura. Kangean terbagi menjadi dua kecamatan, Kangean dan Kangayan.

Untuk mencapai pulau ini, kita bisa memilih dua perjalanan, dengan kapal cepat atau kapal perintis. Hanya butuh tiga jam untuk sampai ke Kangean dengan kapal cepat sedangkan kapal perintis butuh waktu sepuluh jam. Akhirnya saya dan para mbah-mbah memilih kapal perintis, jauh lebih murah dan aman. Aman karena bahan dari kapal perintis tidak seringan daripada bahan pembuat kapal cepat sehingga jika dihantam ombak tidak akan gampang terbalik. Ternyata perjalanan laut ini tidak segampang yang dibayangkan, butuh waktu dua hari untuk sampai di Kangean. Bayangkan dua hari mengapung di laut! Faktor cuaca yang kurang bagus dan jumlah penumpang yang terlalu berlebih membuat nahkoda kapal berpikir dua kali untuk menembus ombak besar. Akhirnya, kapal kami sempat berbalik arah dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya.

Pukul sebelas malam tepat, akhirnya saya tiba di Pelabuhan Batugulu, Kangean. Ini pertama kalinya saya ke Bumi Kangean, tanah leluhur keluarga Madura dari bapak saya. Jelas tujuan saya kesini adalah dua hal, wisata dan silaturrahmi keluarga. Malam itu, saya menginap di rumah adik mbah saya, Mbah Jamal. Rumahnya terletak di Arjasa, pusat kota Kangean. Pagi itu, saya baru mengetahui satu fakta bahwa ternyata Kangean disuplai listrik PLN hanya pada malam hari! Saya mengetahui fakta itu dari saudara saya. tidak hanya Kangean, pulau-pulau kecil disekitarnya juga mengalami hal yang sama bahkan lebih parah, tidak ada listrik! Miris sekali, kita yang berada di kota menikmati segala fasilitas sedangkan di daerah lain begitu kekurangan, terutama kebutuhan dasar seperti listrik.

Tanpa menghabiskan waktu, keesokan harinya, saya habiskan dengan berkeliling ke rumah keluarga untuk silaturrahmi. Tidak hanya itu. Pada hari ketiga, kami berencana pergi ke rumah saudara yang terjauh di Kayuwaru. Kayuwaru merupakan daerah yang terletak 50 km dari timur Arjasa dan terletak di kecamatan Kangayan.

Kami semua pergi menuju Kayuwaru pagi itu. Perjalanan menghabiskan kurang lebih 3-4 jam. Kami menempuh perjalanan dengan mobil pick up dengan kerangka penutup dibelakangnya, mobil yang paling banyak digunakan di Kangean . Sampai di rumah saudara yang kami tuju, kami melanjutkan pergi ke daerah Kangean yang paling ujung. Kami pergi ke daerah Pajenasem, daerah yang paling timur dari Kangean. Dari sinilah, saya bisa melihat Pulau Paliat dari dekat. Laut di sana masih bersih, bisa kita lihat dari warnanya. Biru dan hijau. Dan satu lagi, ini adalah pantai bebas, jadi semua orang bisa menikmati pantai ini tanpa harus bertemu tukang parkir maupun uang tiket masuk. Setelah asyik berfoto-foto di dermaga pantai Pajenasem, kami semua mencari tempat rindang untuk menikmati makanan yang telah dibawa dari rumah. Oiya, makanan yang khas dari Kangean adalah ikan pindang. Kalian harus mencoba ini kalau singgah di Pulau ini! Sedapnya menikmati makanan bersama-sama saudara. Tanpa malu-malu saya nambah makanan terus. Maknyuslah!



Setelah menikmati makan siang di Pajenasem, kami bergegas ke Pantai Patapan. Sebenarnya Pantai Pajenasem dan Patapan itu berada di satu tempat. Pantai Patapan, lebih dekat dengan Pulau Salarangan. Pemandangan dari Patapan lebih menarik daripada di Pajenasem. Dari sini, laut terlihat lebih luas dengan pulau-pulau yang ada disekitarnya. Dari Patapan, saya bisa melihat Pulau Salarangan, Paliat, bahkan Sapeken. Benar-benar indah. Pantainya lebih indah daripada Kuta. Tak heran Kangean dijuluki surga laut terindah di Indonesia. Pasirnya putih dan lautnya benar-benar biru kehijau-hijauan. Saya bahkan tak bisa melepas pandangan saya ke arah lain. Subhanallah! Kalau bukan karena disuruh pulang, mungkin saya sampai malam disitu. Saya penasaran bagaimana kelihatannya sunset dari pantai ini.


Sayangnya, kami harus pulang karena sudah mulai siang karena Mbah Jamal akan mengajak kami ke suatu tempat yang bernama Olbhe’. Olbhe’ merupakan suatu kolam air yang mempunyai mata air yang banyak. Olbhe` terletak di hutan yang sepi. Awalnya saya ragu-ragu untuk ikut mandi ke kolam itu. Akan tetapi, sepupu-sepupu saya membuat saya ngiler dengan berenang kesana kemari, saya akhirnya nyebur juga. Setelah asyik berenang layaknya ikan yang bertemu habitat baru, Mbah Jamal pun menculik kami (lagi) ke tempat wisata lain, Celegung. Namanya yang aneh kan? Cara baca Celegung adalah Celekhung. Celegung sangat ramah dikunjungi orang. Tunggu, apa itu Celegung? Celegung merupakan kolam berenang. Ini bukan kolam renang biasa. Kolam Celegung adalah daerah di luar pantai yang menyerupai seperti kolam, bukan kolam buatan, yang menjorok ke pantai. Dari anak-anak sampai orang tua tak ragu untuk berenang di Celegung. Setelah berenang di Celegung, kita bisa mencoba penthol (bakso) yang berjualan persis di depan Celegung. Rasa? Tidak diragukan lagi, Ajibbbbb ! Boleh saya katakan jangan pernah merasa pernah ke Kangean kalau tidak pernah mencoba penthol Kangean dan tentu saja ikan pindangnya. Hari telah beranjak sore. Setelah lahap menikmati dua porsi penthol bakso, kami kembali ke Arjasa. Hari itu benar-benar sangat menyenangkan bagi saya. Sehari penuh saya jalan-jalan terus!

Seminggu penuh saya telah habiskan untuk mengenal keluarga saya yang berasal dari Madura. Meski, beberapa telah pindah ke Kota Sumenep, Kangean merupakan asal muasal keluarga saya. Orang tua bapak saya, Mbah Kakung dan Mbah Boeriyan, merupakan orang Kangean asli. Setelah berpamitan dengan keluarga besar, dengan berat hati saya kembali pulang ke Sumenep. Saya akan kembali kesini lagi. Bagaimanapun ini adalah tanah leluhur dan saya tidak boleh melupakan asal-usul saya sendiri. Anyway, pengalaman backpacking berharga sekali bagi saya. Banyak hal-hal yang tidak kita bisa dapat dari teori belaka, namun dapat diperoleh dengan melakukan perjalanan. Kamu masih muda dan habiskan masa mudamu dengan melihat dunia yang luas ini. So, try to backpacking and reach more experiences!

*Agustus akhir, ketika masih di Bekasi, saya kaget melihat tajuk dari salah satu harian ibukota yang memuat judul Laut Kangean Tercemar (Republika, ed. 31 Agustus 2010). Kapal minyak MT Gagasan Perak meledak dan mencemari perairan Sapeken. Saya sangat menyayangkan kejadian itu karena wisata bahari Kangean akan tercemar, seperti pantai Pajenasem maupun Patapan yang tak jauh dari Sapeken. Sedangkan untuk memulihkan suatu perairan laut yang tercemar, dibutuhkan konsistensi dan waktu yang sangat lama. Pemerintah harus menunjukkan atensi yang lebih untuk kasus ini, kalau tidak nasibnya akan sama seperti Lapindo, tidak terselesaikan sampai sekarang.

5 Jul 2010









Can`t wait the moment!

Empat hari lapuk di rumah.

Jadi jamur!

Gue enggak sabar menjalankan ini semua, meski sedikit takut, dan takut semuanya enggak terwujud seperti apa yang gue pengin.

Travel Java berubah jadi travel Madura, ehm, lebih tepatnya Sumenep, kampung tulennya bokap.

Gue rencana naik KL Gn. Dempo ke Surabaya, terus naik travel ke Sumenep. Tujuan utama gue ke Sumenep adalah pengin ziarah ke makam Mbah Kakung dan Mbah Boeriyan. Ini nazar gue kalau gue masuk kedokteran. And I did it. Baru tahun ini gue bisa ke Sumenep, Madura, setelah sepuluh tahun gue enggak kesini. Selain itu, misi gue kesini selain ziarah dan silaturrahmi ke keluarga Madura yaitu liat wisatanya Sumenep!

Hellooo? Ada apa disanoo?
Bukannya disana cuma ada tukang sate, garem, dan panas gilaa?

WRONG!

Setelah searching dan berguru ilmu pada om Gugel dan tante Wiki, akhirnya ketemu dua tempat wisata Sumenep yang paling menonjol. Whats that? Pantai Lombang dan Keraton Sumenep! Gue mau kesana. Terus pengin ke Kangean, ngeliat Om Hanif, saudara Madura kita yang lain, yang pernah tinggal sama kita pas di Bekasi. Dia kerja ngurus obat di klinik bonyok pas di Perumnas 3. Dia juga suka (nyaris) getakin gue pakai sandal kalo gue ngeracau di bagian obat-obatannya klinik. Dan gue mau liat kliniknya si Om Madura gue yang lain, dia lulusan FK UNS, dan kliniknya besar di Kangean. Gue mau liat.

Gue mau liat semuanya pake mata, ngirup angin, ngedenger langsung ke-riweuh-an sekitar, berjalan dengan kaki, dan tentu saja merasakan hawa perjalanan dengan hati.

Dari berjalan, kita bisa melihat sekitar
Dan dari melihat sekitar, kita bisa mengambil ilmu.
Dengan berjalan, kita bisa mengenggam semuanya, pengalaman yang membuat kita mendapat ilmu yang tidak bisa didapatkan orang dalam perkuliahannya ataupun pendidikan formal lainnya. Ada beberapa hal yang hanya bisa di interpretasikan oleh indera lewat suatu perjalanan, bukan sekadar teori.

Nah, Itulah esensinya dari berjalan, berkeliling, autis, mbolang, atau bahasa kerennya Backpacking.

19 Sep 2008

oioi

LIBUR TLAH TIBA..LIBUR TLAH TIBA..


HORE!!HORE!!HORE[laguny tasya]

YESS!!!YESS!!YES!!!

itu artinya gw kudu balik k bkasiii lgii.
dan kembali BERHIBERNASI di hums.

tpi nyatany gw k bndungg dulu
NGABUBURIT dulu ahhhhh!!!

ngaso2 ke kosan uda gw:uda ryan.
n skaliaan berinternet ria di kosanny[soalny UNLIMITED sii.he]
aji mumpung bgt yee.

gatau mo nulis aplgi.test posting!
 

Copyright 2010 a piece of mind.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.