Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan

26 Feb 2020



Namanya Gilang.
Saya yang memberikan namanya. Alasan dibalik saya menyematkan nama itu pada adik bungsu saya, tidak lain karena orang yang saya kenal yang namanya Gilang, orangnya selalu keren. Sesimpel itu.

Mengingat sejarah kenapa dia bisa lahir, sebenarnya ibu saya yang dokter pun tidak ngeh kalau beliau dalam kondisi hamil. Beliau pikir ini kemungkinan tumor perut. Akhirnya pikiran itu terbantahkan setelah sejawatnya menyarankan untuk test pack. Tidak terduga, positif dua hasilnya. And voila! Empat bulan berikutnya, ibu saya yang berumur 46 tahun fix melahirkan adik laki-laki baru dalam keluarga.


Tak terasa time flies so fast, dia sudah berumur 11 sekarang. Oiya, jarak umur saya yang tertua dengan si bungsu 16 tahun. Dan pagi ini hari pengambilan pengumuman kelulusan SDnya. Jam 6 pagi dia sudah siap-siap mandi dan memakai seragam lengkap. Kami kakak-kakaknya menggembleng dia untuk persiapan belajar menghadapi uan mulai dari bulan-bulan sebelumnya. Sampai kadang saya pernah membawanya jaga di rumah sakit untuk lanjut belajar matematika sampai tengah malam.

Sebentar lagi pukul 8. Kuperhatikan sesekali Gilang mulai mondar-mandir tidak jelas. Tampak dirautnya, dia mulai gelisah. Matanya berkaca-kaca. Saya yang baru pulang jaga keheranan melihat dia begitu. "Gilang! Duduk disini!" Dia duduk disamping saya dengan muka tertunduk. "Kamu nangis?? Jangan cengeng ah laki-laki!!" Tanpa sepatah kata, dia mulai sesugukan. Air matanya keluar. "Lha, kamu kan sudah berusaha, usaha itu tidak akan mengkhianati hasil. Perkara lulus atau nggak urusannya nanti." Dia mulai menengadahkan mukanya keatas, menahan air mata yang lebih banyak jatuh. Cool dan unyu sekali ini adikku. Saya pun menepuk bahunya sambil menenangkannya. "Kamu pasti lulus kok, kamu kan nggak bodoh adek. Sisanya tinggal serahkan sama Allah."
Tak kusangka beban anak SD sekarang begitu berat. Perasaanku dulu kerjaannya main-main karet dan donald bebek saja.

Setelah itu Gina menemaninya pergi ke sekolah. Dia pun sempat spoiler kita-kita di grup keluarga dengan gambar depan amplop kelulusan. Haduh, membuat kami kepo maksimal! Singkatnya, akhirnya si bungsu ini lulus. Tidak tanggung, dengan nilai yang lumayan, 27.9! Berarti rata-rata subjek pelajarannya 9. Wew. Dan dia berhasil masuk SMP favorit di kota bekasi, SMP N 1 Bekasi. Benar-benar tak terduga. Cukup mengherankan karena kerjanya ini anak selama dirumah main game terus, jadi pas tahu nilainya segini, saya cukup terkejut. Ternyata otaknya cukup tokcer.

Setelah pengumuman, tampaknya dia balas dendam. Pagi siang malam main game di hp terus. Bahkan di toilet pun rajin main hp. Arghhh, kelakuan anak zaman sekarang! Dan tak terasa, adikku semakin besar. Umurnya sekarang 13 tahun. Kerjanya sekolah dan main game kalau pulang. Nggak papa, masih kelas 2. Nanti deh, kelas 3 baru kita struggle belajar lagi. Kita coba tembus SMA favorit di Jakarta Timur ya! Love you bro! 


Oiya, tulisan ini ditulis 2 tahun yang lalu.
Saat perasaan gembira dan bangga muncul karena adik saya akhirnya lulus.

24 Jan 2019



Ismail Marzuki merupakan seorang Komponis Besar Indonesia. Ismail Marzuki yang lahir pada tahun 1914 telah  memulai karir musiknya sejak usia 17 tahun. Mendengar karya musikus yang satu ini, tentunya kita tak bisa lupa lagu-lagu Indonesia ciptaannya yang terkenal seperti Halo-Halo Bandung, Indonesia Pusaka, Rayuan Pulau Kelapa, dan Wanita. Banyak yang tak tahu bahwa dia telah mengarang hampir kurang lebih 300 karya yang telah didokumentasikan oleh anaknya sendiri, Rachmi Aziah. Karyanya telah dikenal luas dan dianggap berjasa dalam dunia permusikan Indonesia. Namanya pun diambil menjadi nama salah satu pusat seni di Jakarta, Taman Ismail Marzuki.

Pada 13 Januari 2019 lalu, saya diberikan kesempatan sebagai blogger untuk menyaksikan suatu konser musik bertemakan Millennial Marzukiana yang diadakan di Ciputra Artpreneur Theater Jakarta. Dari namanya, kita sudah bisa menyimpulkan bahwa konser ini mengusung karya-karya musik dari Ismail Marzuki. Acara ini merupakan konser amal hasil kolaborasi dari pihak KAYA.ID yang menggandeng pianist dan komposer kenamaan Indonesia, yang tak lain adalah Ananda Sukarlan.

Wait, Ananda Sukarlan?
Pucuk dicinta ulam pun tiba!
Dia adalah orang yang dari dulu ingin saya dengar langsung karyanya.

Singkat cerita, beliau ini merupakan pianist favorit ibu saya. Dari kelas 4 SD, ibu meminta saya untuk les piano musik klasik. Mereka pecinta segala jenis musik dan ingin anaknya menguasai minimal satu alat musik. Dari kecil, saya selalu dibilangi begini. “Tuh Ghe, jadi pianis kayak dia. Keren!” Sayangnya saya harus berhenti les piano saat SMA karena bosan dan ingin fokus ke pendidikan formal.

Ini kesempatan emas yang tak boleh dilewatkan. Kapan lagi nonton konser musiknya Ananda Sukarlan? Sebelum berangkat nonton, saya bahkan memanas-manasi ibu karena saya yang akhirnya bisa nonton live pianist favoritnya.

Tepat pukul 4 sore, konser musik ini dimulai.

Acara dibuka dengan musik dari Opera Erstwhile dimana Ananda Sukarlan berkolaborasi dengan dua musikus milenial yang masih berusia 20an, Mariska Setiawan dan Aryo Pradhita. Perpaduan suara antara soprano dan tenor pada lagu ini selaras dan membuat saya terkagum sekaligus merinding saat mendengarnya.

Mulai dipertengahan acara, Ananda Sukarlan mulai memainkan musik Indonesia. Saya sangat terkesan ketika orkestra musik mengiringi cerita tentang Malin Kundang. Sang narator yang membawakan cerita si Malin Kundang, Handry Satriago, sangat menjiwai dan ekspresif dalam bercerita. Narasi ini makin apik karena dipermanis dengan pengantar musik yang mampu menggugah perasaan penonton sehingga inti cerita benar-benar tersampaikan. Lagu nostalgia sewaktu saya kecil juga dimainkan sebagai backgroundnya, Gelang Sipaku Gelang. Saya selalu menyanyikan lagu ini ketika pulang dari taman kanak-kanak dulu. Lagu yang juga berasal dari Sumatra Barat ini digubah dan dimainkan dalam irama musik yang bevariasi sesuai suasana.

Setelah intermission, Ananda Sukarlan Orkestra mulai memainkan Concerto Marzukiana no. 2. Lagu-lagu terkenal dari Ismail Marzuki mulai dimainkan dari Wanita, Gugur Bunga, dan Halo-Halo Bandung. Alunan musik ini diperkaya oleh alunan biola dari Finna Kurniawati. Selanjutnya, dalam
Concerto Marzukiana no. 3, lagu Melati di Tapal Batas dinyanyikan oleh orkestra bersama Jessica Sudharta, sang harpis muda berbakat dari Surabaya.

Concerto Marzukiana no. 1 menjadi lagu yang terakhir dimainkan. Medley Selendang Sutra dan Indonesia Pusaka dimainkan dengan anggun dan penuh khidmat. Saya selalu terharu jika lagu kebangsaan ini diputar. Rasa nasionalisme terhadap Indonesia seakan tergugah untuk bangkit. Tak terasa mata saya berkaca-kaca dan hati saya penuh saat mendengarkan Indonesia Pusaka. Permainan orkestra ini menjadi lebih cantik karena diiringi musik piano Anthony Hartono, sang pianist muda berbakat yang masih berumur 23 tahun.


Konser tersebut sukses dihadiri oleh banyak pihak duta besar dari 12 negara dan hadir juga tamu kehormatan, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno Marsudi. Dengan adanya konser “Millennial Marzukiana”, sebuah karya anak bangsa dari Ananda Sukarlan, diharapkan masyarakat utamanya generasi zaman sekarang dapat lebih mengenal karya musikus Indonesia, salah satunya Ismail Marzuki.

Semoga dengan mengenal dan mencintai musik Indonesia, rasa nasionalisme kita semakin besar dan kita makin mencintai Indonesia.

8 Nov 2018

Berat bagi saya mengatakan ini. Saya selalu dikira bukan dokter. HIKS!

Orang selalu mengira tipe dokter wanita kebanyakan adalah anggun dan apik. Oh no no no, I'm not that kind of doctor. Saya bukan salah satunya.

Dulu, berpikir jadi dokter pun tak pernah. Punya bapak-ibu dokter, saya memang familiar dengan klinik, puskesmas, dinkes, dan rumah sakit. Dari kecil, saya rajin jajan di klontong depan puskesmas, suka lari-lari diklinik dan mainin lumpang obatnya klinik, biasa ikut bagi-bagi kondom ke bencong untuk program hiv. Akan tetapi, tidak terpikir sedikit pun saya bakal jadi dokter. Bagi saya itu profesi yang melelahkan. Liat kehidupan bapak-ibu saya aja udah lost interest.

Oiya, dari kecil memang saya agak tomboy. Apa mungkin karena bawaan orok orangtua berharap saya cewek? Dunno. But I'm so glad being woman. Karena pada dasarnya hatiku rapuh seperti remahan roti dan agar-agar. Hahaha.

Sepuluh tahun kemudian, saya tumbuh jadi bocah berambut kribo yang tidak bisa diam. Memang sudah terlihat keautisan saya sejak dulu. Saya suka main dan asik dengan diri sendiri. Dari zaman kelas 6, nilai sejarah saya selalu paling tinggi dikelas. Saya menyukai sejarah kerajaan. Dari situlah saya menetapkan cita-cita saya untuk jadi Sejarawan.

Sepuluh tahun kemudiannya lagi, saya tiba-tiba sudah jadi mahasiswa tingkat dua. Entah kenapa ibu saya punya ilmu ajaib yang bisa mengubah cita-cita saya dari sejarawan dan menjebak saya masuk kuliah jadi dokter. Ini benar-benar tidak terduga. Padahal saya yang kemungkinan jadi dokternya paling kecil.

Pas masuk pertama kuliah, gaya saya belum berubah. Masih cuek bebek. Bedanya kami di tingkat awal harus sering pakai rok. Saya pun lebih sering meluruskan rambut dan sedikit memanjangkannya. Tapi masuk kuliah tingkat ketiga, saya lebih sering memangkasnya. Panjang sedikit, langsung potong. Hidup saya pun tak terurus karena lebih sering tinggal di kampus, ikut kegiatan organisasi, siaran radio kampus, dan tidur di studio. Ketika pagi, saya langsung bergegas mandi di kamar mandi kampus dan masuk kuliah dengan baju oblong, celana bahan sometimes jeans, dan tas eiger kecil yang berisi buku kecil dan pulpen. Tak jarang, orang menebak-nebak apakah saya cewek teknik atau fisip yang salah masuk kelas.

Setelah lulus, gayaku pun belum juga berubah. Masih awkward sama make up dan cuma mau dimakeupin sama the sister atau mua untuk occasion tertentu. Tapi ada saatnya saya pengen tobat jadi cantik, saya biasa tugas dengan tight-short-skirt or dress. Tapi itu sangat jarang. Hahaha.

Setelah jadi dokter, saya ditegur sama nyokap. Kok jadi dokter penampilannya lusuh banget, nanti saya nggak dipercaya jadi dokter. Apalagi saya kecil-imut-dan-menggemaskan. Makanya sebisa mungkin saya kalau tugas pakai kemeja atau baju jaga, celana bahan, dan sepatu. Kadang kalau pakai kaus, saya harus pakai jas snelli.

Ada satu kejadian lucu yang saya inget dan buat saya ngakak. Jadi saya sedang jaga disalah satu klinik BPJS di Tambun. Di sela-sela waktu istirahat, saya pun makan-makan snack di ruang tunggu pasien. Ketika waktu istirahat selesai, saya pun bergegas masuk kembali ke ruangan periksa. Lalu saya dicegat sama pasien yang hendak masuk. Saya dikira pasien yang mau nerobos langsung tanpa ngantri. "TUNGGU BU, ANTRI DONG! KITA MASUK SESUAI ANTRIAN!" Lalu saya ketawa sambil jongkok, "LHA PAK, WONG SAYA DOKTERNYA. NANTI SIAPA YANG MERIKSA BAPAK?" Si bapak malu dan langsung minta maaf ke saya. "Saya kirain teh neng dokter itu pasien." Hahaha.

Lain lagi cerita kalau wajah elo yang suka bertualang kalah cetar dibanding adik-adik si hijab sosialita. Saya anak tertua dan satu-satunya yang belum pakai kerudung. (Edisi belum tobat #eh) Satu hari ibu saya dan temannya, si Tante X bertemu di RS. Saat itu, saya lagi jalan sama the sister. Si Tante langsung cipika cipiki terus liatin kita bertiga, terus nyalamin adik saya yang pertama. "Oh ini anakmu yang dokter itu. Cantik ayu tenan ya." Gue ketawa kecut miris dibelakang. Adik saya langsung koreksi, "Yang ini tante, kakak saya yang dokter." "Ooh gitu.."
Jleb again!

Yang paling jahat adalah cerita yang ini. Gue baru sadar, betapa bedanya perlakuan seseorang ketika dia tahu profesi kita. Dan kejadian itu terjadi waktu gue ke Krakatau akhir 2016 lalu. Saya ke Krakatau dan bertemu banyak teman-teman baru. Di satu tempat itu, saya juga bertemu anak cimi2 geng satu tempat kerja. Dan salah satunya, si B, yang tidur disebelah saya. Saya berusaha sksd-an untuk make a conversation, dan tahu apa? Di cuekin. Dicuekin PARAH. Dan akhirnya si B main sama gengnya dan gue main sama geng yang lain. Pas hari terakhir, waktu kita makan siang depan pantai. Tiba-tiba dia ngeluh lehernya sakit dan merah karena digigit apa. Terus temen gue nyeletuk, "Tanya aja Ghea, dia dokter tuh." And then, dia berubah total. Jadi ramah dan nanya-nanya penyakit. Wah, ini tipe orang yang gue paling hindarin. That's why kenapa gue paling nggak suka ngaku jadi dokter. Hahaha.

Overall, I know. I know that i'm not a kind of doctor that you see in TV or you imagine. 
But I still can be a doctor that can treat you warmly and give the the best medication to make you healthy. 
Just trust me :)

22 Okt 2018

Setelah kabur beberapa saat untuk traveling ke padang, kampung sepertiga dari leluhur, akhirnya masuk juga saya ke arena dunia klinik dari perjalanan pendidikan jadi dokter. Jadi koas. KOASISTEN. Jadi kalo dari bahasanya, kita asisten dari asisten. Njelimet ya? Jadi perumpamannya begini, ibaratnya konsulen/spesialis punya asisten yaitu dokter jaga/residen spesialis. Nah kita asistennya si dokter jaga/residen. It means, kita kasta terbawahnyalah. Maklum, pembelajaran itu selalu mulai dari yang paling bawah, jadi setiap dokter pasti ngalamin masa ini. 

Back to topic, bagian radiologi ini merupakan bagian pertama saya dalam dunia koas. Ini merupakan pengalaman pertama. Feeling excited but also thrilled in the same time! Saya langsung dapat jackpot tugas jadi chief koas. Ini karena nama saya di urutan pertama. Sial! Tapi karena itulah saya dapet penguji baik. Semua ada hikmahnya. Hahaha. Selama kurang lebih 4 minggu kami harus mempelajari gambaran radiologis dari badan manusia yang difoto. 

Apa yang dikerja sebagai koas radiologi? Minggu pertama, setiap harinya, kita bak koas odong-odong masuk-masuk ke ruangan foto liat foto roentgen yang sedang dibaca residen. Lucunya, semakin dilihat foto-foto itu, semakin banyak kemungkinan penyakit yang kita dapat. Mata kita jadi jereng dan beleng beneran! 

Jadi dokter radiologi itu tidak gampang loh! Mereka lebih dari sekadar pengamat foto. Mereka belajar bagaimana cara mengambil foto yang baik, menyocokkan klinis penyakit dengan gambaran foto, bahkan harus paham anatomi menyeluruh untuk menentukan apakah foto itu normal atau patologis. Jadi tak sesimpel yang dibayangkan. 

Minggu kedua dan ketiga saya habiskan untuk pembuatan referat (laporan ilmiah) untuk dokter konsulen. Kami pun digilir ke stase radiologi rs lain. Minggu kedua saya pindah ke RS X. Ini pertama kalinya saya nginjekin kaki di rs ini. RS X yang (maaf) higienitasnya dipertanyakan. Bahkan koas pun tak ada yang berani makan dikantin RSnya. Kami-kami ini memilih makan diluar atau bawa makanan saja. 

Hari Senin jam 7 pagi teng saya sudah harus disini. Memasuki stase radiologi RS ini sudah tercium bau-bau aneh yang menusuk hidung didekat ruang radiologi. Konon katanya ini bau tikus mati yang gosong karena diroentgen. Hahaha. Selanjutnya, kamipun harus ketemu dokter bagian ini untuk melapor. Dokter ini khas sekali dengan kalimat bicaranya yang pakai kata "Haiyyaaa..haiyyaaa..haiiyyyaaa". Beliau sudah sepuh, suka ngetes, tapi rajin ngajar. Saya malah suka dokter yang kayak gini. Satu minggu disini ilmu saya baca xray meningkat pesat. 

Minggu keempat kami habiskan dengan menyelesaikan referat dan ujian. Untungnya penguji saya malaikat. Saya lulus dengan mulus. Lain dengan nasib teman saya. Dia dapet penguji yang memang benar benar harus ditunggu. Ngasih ujian sesuai moodnya. Konon katanya, posisi konde dirambutnya menentukan mood ngasih ujiannya. Hahaha. Akhirnya dia menunggu 1 minggu untuk bisa ujian sama konsulen sehingga stase radiologinya prolonged jadi lima minggu. Hmmm, sometimes coass life is about luckiness too. Ya, untungnya pengujinya yang rempong pas sebanding dengan level kepintaran coassnya. Temen saya akhirnya lulus juga. 

Di akhir ujian bagian, kami disuruh datang jam 5 subuh untuk ujian foto. Saya rela begadang demi membangunkan anak- anak yang lain. Dan lucunya berakhir dengan saya yang ketiduran dan akhirnya ditelponin berpuluh puluh missed call ðŸ˜† hahaha 

And, Voila!!! Hasil ujian pertama saya A. 
Alhamdulillah! 
Itulah sekelumit perjalanan tentang stase pertama saya. 
Cerita-cerita yang lain nyusul ya. 
Masih banyak hal hal yang saya dapatkan sebagai mahasiswa kedokteran membuat saya belajar tentang arti kehidupan. Ceileh. 
So, see you!

29 Okt 2010

Setelah sebulan mengitari pulau Madura sampai ke kepulauan kecilnya, Pulau Kangean, akhirnya saya kembali ke kota besar di Jawa Timur ini, Surabaya. Kota ini sudah tidak asing lagi bagi kita. Saya mendarat di kota ini akhir Juli kemarin. Setibanya di Surabaya, saya langsung menuju Surabaya Pusat tepatnya Asrama Haji Surabaya. Saya akan menginap disini selama seminggu karena disini saya mempunyai sanak saudara. Alhamdulillah, karena koneksi, saya mendapatkan satu kamar asrama haji dengan sepuluh tempat tidur plus AC, berasa hotel! Tidak mau berlama-lama, sore itu juga, saya langsung pergi berkeliling Surabaya dengan motor. Melihat jalan-jalan di Surabaya yang nyaris seperti jalan protokol semua seperti Jalan Jenderal Sudirman Jakarta membuktikan bahwa penataan kota Surabaya sangat rapi dan bersih, tidak seperti kota-kota besar yang saya lihat. Persinggahan pertama saya adalah tempat kuliner legendaris Surabaya bahkan dari zaman penjajahan Belanda. Es Krim Zangrandi. Tempat ini terletak di pusat Kota Surabaya, Jalan Yos Sudarso Disini kita dapat mencoba berbagai macam jenis es krim dengan harga yang terjangkau. Benarkah? Ya, cukup dengan membawa uang 10-20 ribu rupiah, kita sudah bisa menikmati satu porsi es krim lezat. Tidak hanya kelezatan dan kemurahannya, tempat dimana Zangrandi berdiri pun merupakan bangunan zaman arsitektur Belanda. Nama tempat ini diambil dari nama pendirinya, Renato Zangrandi, orang Italia, pada Dari tempat es krim Zangrandi, kita juga dapat melihat Monumen Jenderal Sudirman. Jika anda menonton Nagabonar Jadi 2, ada satu adegan dimana Nagabonar memanjat patung Jenderal Sudirman, nah itulah monumen yang saya maksud.

Perjalanan ini masih panjang. Keesokan harinya, saya mulai berpetualang sendiri. Pilihan terbaik dalam menempuh perjalanan di kota besar dengan kondisi uang pas-pasan adalah naik angkutan umum. Berbeda dengan daerah lain yang menyebut angkutan umum angkot (Jakarta dan sekitarnya), pete-pete (Makassar), angkutan umum Surabaya dinamakan Len. Perjalanan pertama saya hari itu menuju ke KBS (Kebun Binatang Surabaya.) Untuk mencapai tempat ini, kita hanya perlu menceri len O yang menuju Terminal Joyoboyo dan KBS berada tidak jauh dari terminal. Tiket masuk KBS seharga 15 ribu rupiah. Ketika masuk, kita diwajibkan memakai gelang kertas KBS yang dipakai. Berbagai macam jenis wisata dapat kita lihat. Ada juga gedung akuarium yang memuat berbagai macam ikan tawar dan laut. Dengan melihat berbagai macam jenis satwa yang ditawarkan, rasanya tidak rugi untuk membayar tiket masuk KBS. Saya puas. Masalah fasilitas, tidak sekalah Ragunan maupun Taman Safari di Jakarta. Akan tetapi, baru-baru ini, KBS menjadi berita yang sering dibicarakan di media. Banyak satwa langka yang mati dan terurus karena konflik internal pejabat KBS. Ini cukup membuat saya miris karena kebun binatang ini merupakan salah satu cara konservasi satwa untuk melindunginya dari kepunahan, namun sekarang harus kehilangan fungsinya karena kinerja pegawai sehingga menurunkan kualitas KBS.

Tempat wisata yang saya datangi tidak hanya KBS, akan tetapi House of Sampoerna (HOS). Rumah ini berisi tentang sejarah keluarga yang membangun perusahaan rokok. Pernah dengar? Liem Seeng Tsee merupakan pendiri rokok Sampoerna kretek. HOS ini terbuka untuk umum dan gratis. Layaknya seperti museum, HOS ini menceritakan perjalanan tentang pendirinya dalam mendirikan usaha rokok. Pertama kalinya masuk HOS, kita langsung mencium aroma cengkeh yang kental. Di ruang depan, kita bisa lihat jenis-jenis cengkeh yang dipakai untuk melinting rokok dan alat-alat yang dipakai Liem Seeng Tsee seperti gerobak rokok dan sepeda yang dipakai untuk menjual tembakau. Sedangkan di ruangan tengah dan dalam, terdapat banyak foto komisaris dan petinggi-petinggi lainnya Sampoerna dari masa ke masa. Disini kita bisa tahu proses melinting rokok. Di lantai dua, kita bisa temukan toko souvenir dan basement yang dipenuhi sekitar dua ratus pekerja pelinting rokok. Saya kaget melihat betapa lincahnya jemari pekerja itu melinting rokok, Bayangkan, setiap pekerja bisa memproduksi 325 batang rokok per jam. Jadi kira-kira untuk semua pekerja bisa memproduksi sekitar 65000 batang rokok per jam! Di luar House of Sampoerna, terdapat Surabaya Herritage Tour (SHS) dimana pada jam-jam tertentu ada bus yang mengantarkan kita ke salah satu tempat wisata dan mengetahuinya lebih dalam. Sayangnya, saya kurang beruntung saat itu karena bus SHSnya sudah penuh. Selanjutnya destinasi saya, Monumen Pahlawan dan Museum Sepuluh November. Untuk mencapainya dari House of Sampoerna, kita dapat pergi dengan becak harga enam ribu rupiah. Untuk masuk ke Museum Sepuluh November, kita hanya membayar dua ribu rupiah. Dalam museum, kita dapat mendengar rekaman asli pidato Bung Tomo dan terdapat banyak diorama perjuangan rakyat Surabaya kala masa kemerdekaan.

Keesokan harinya, karena hari Jum`at, saya memutuskan wisata relijius ke beberapa tempat, diantaranya mesjid Ampel dan mesjid Cheng Hoo. Untuk masuk ke mesjid Ampel, hendaknya kita sebagai muslim khususnya perempuan memakai jilbab supaya lebih kelihatan sopan. Saya, yang saat itu lupa membawa jilbab, terpaksa memakai jaket hoodies untuk menutup kepala saya. Hari itu banyak pengunjung yang datang. Di Makam Sunan Ampel, banyak orang yang datang membaca doa-doa. Tak jauh dari makam, terdapat banyak gentong-gentong air yang bisa diminum yang berasal dari sumur yang digali murid Sunan Ampel. Khasiat? Setelah bertanya pada salah satu penjaga mesjid, Pak Matori, tidak ada khasiat apa-apa. Gentong itu disediakan hanya untuk orang yang haus, tidak ada yang spesial. Setelah mengunjungi Ampel, saya langsung pergi mencari mesjid Cheng Hoo. Untuk mencarinya, tidak perlu susah. Anda tinggal mencari len menuju Taman Remaja Surabaya (TRS). Mesjid Cheng Hoo berada tidak jauh dari TRS, kita hanya perlu berjalan ke seberang sedikit. Mesjid Cheng Hoo terletak di Jalan Gading no. 1 Surabaya. Kebetulan sekali, ketika saya datang, waktu shalat telah masuk Ashar, saya memutuskan untuk ikut shalat berjamaah disana. Saat itu, mesjid sedang dalam masa renovasi. Meski bagian dalam mesjid berukuran kecil, arsitektur bangunannya tiongkoknya begitu terasa. Disini kita juga bisa membeli buku kamus kecil Tionghoa, hanya dengan dua ribu rupiah, kita bisa belajar kosakata dasar bahasa Mandarin.

Sebenarnya bukan hanya tempat-tempat wisata saja yang saya kunjungi, rumah sakit dr. Soetomo juga saya kunjungi. Rumah sakit ini juga dikenal sebagai rumah sakit Karang Menjangan. Rumah sakitnya menempati satu jalan dari ujung ke ujung! Lebih besar dari RSCM, Jakarta. Tidak hanya itu, rumah sakit ini terdiri dari beberapa bangunan diantaranya Instalasi Rawat Jalan, Instalasi Rawat Inap, Graha Amerta, dan Gedung Bedah Pusat Terpadu (GBPT). Melihat fasilitas yang tercukupi, pantas kalau RS dr. Soetomo menjadi rujukan pusat daerah timur. Tidak hanya itu, beberapa kasus medis kontroversial yang sering muncul di TV dirujuk ke rumah sakit ini.

Selain tempat wisata dan rumah sakit, saya juga mengunjungi beberapa mal Surabaya juga menjadi tujuan destinasi saya. Surabaya Plaza, Pasar Atum Mall, dan Tunjungan Plaza yang merupakan mal terbesar di Surabaya pun saya kunjungi. Akan tetapi, bagi backpacker seperti saya, buying experiences is more fun than buying things. Disamping harus menghemat untuk perjalanan selanjutnya, jadinya saya hanya melihat-lihat saja. Oiya, tepat di sebelah Surabaya Plaza, jangan lupa untuk mengunjungi Monumen Kapal Selam Dan jika anda ke Pasar Atum, pergilah ke lantai yang paling bawah, bagian pasar tradisional. Disana kita bisa mendapatkan kios Cakue Peneleh yang wajib dijadikan wisata kuliner di Surabaya. Makanan andalan kios Cakue Peneleh yang wajib dicoba adalah cakue udang, roti goreng, dan bakpau daging. Masalah rasa dan harga? Mantap, maknyus, dan tidak bikin kanker [red: kantong kering]. Tidak hanya itu, berbagai jajanan tradisional Jawa Timur murah dan enak yang diperjualbelikan. Jadi persiapkanlah perut anda jika mengunjungi Pasar Atum. Selain sebagai kota wisata dan kota belanja, Surabaya juga menjadi surga makanan bagi pecinta kuliner. Rujak cingur, lontong balap dan sate kerang, bebek goreng, nasi pecel Ponorogo Bu Soeyatin, dan Spesialis Belut Surabaya bisa menjadi menu kuliner yang bisa dicoba selama berwisata di Surabaya.

Sekilas tentang perjalanan backpacking saya di Surabaya. Surabaya adalah kota yang bagus untuk tujuan liburan anda! So, ada yang mau ikut dengan saya untuk backpacking selanjutnya?

1 Okt 2010



Sudah pernah mendengar Kangean?

pulau ini pasti terdengar asing untuk orang-orang Sulawesi, bahkan orang Jawa pun kadang tidak mengetahui letak pulau ini. Saya baru saja backpacking dari sana, tepatnya pertengahan Juli lalu. Kangean merupakan pulau yang terletak di sebelah Madura. Pulau Kangean merupakan pulau kecil yang termasuk dalam kabupaten Sumenep, Madura. Kangean terbagi menjadi dua kecamatan, Kangean dan Kangayan.

Untuk mencapai pulau ini, kita bisa memilih dua perjalanan, dengan kapal cepat atau kapal perintis. Hanya butuh tiga jam untuk sampai ke Kangean dengan kapal cepat sedangkan kapal perintis butuh waktu sepuluh jam. Akhirnya saya dan para mbah-mbah memilih kapal perintis, jauh lebih murah dan aman. Aman karena bahan dari kapal perintis tidak seringan daripada bahan pembuat kapal cepat sehingga jika dihantam ombak tidak akan gampang terbalik. Ternyata perjalanan laut ini tidak segampang yang dibayangkan, butuh waktu dua hari untuk sampai di Kangean. Bayangkan dua hari mengapung di laut! Faktor cuaca yang kurang bagus dan jumlah penumpang yang terlalu berlebih membuat nahkoda kapal berpikir dua kali untuk menembus ombak besar. Akhirnya, kapal kami sempat berbalik arah dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya.

Pukul sebelas malam tepat, akhirnya saya tiba di Pelabuhan Batugulu, Kangean. Ini pertama kalinya saya ke Bumi Kangean, tanah leluhur keluarga Madura dari bapak saya. Jelas tujuan saya kesini adalah dua hal, wisata dan silaturrahmi keluarga. Malam itu, saya menginap di rumah adik mbah saya, Mbah Jamal. Rumahnya terletak di Arjasa, pusat kota Kangean. Pagi itu, saya baru mengetahui satu fakta bahwa ternyata Kangean disuplai listrik PLN hanya pada malam hari! Saya mengetahui fakta itu dari saudara saya. tidak hanya Kangean, pulau-pulau kecil disekitarnya juga mengalami hal yang sama bahkan lebih parah, tidak ada listrik! Miris sekali, kita yang berada di kota menikmati segala fasilitas sedangkan di daerah lain begitu kekurangan, terutama kebutuhan dasar seperti listrik.

Tanpa menghabiskan waktu, keesokan harinya, saya habiskan dengan berkeliling ke rumah keluarga untuk silaturrahmi. Tidak hanya itu. Pada hari ketiga, kami berencana pergi ke rumah saudara yang terjauh di Kayuwaru. Kayuwaru merupakan daerah yang terletak 50 km dari timur Arjasa dan terletak di kecamatan Kangayan.

Kami semua pergi menuju Kayuwaru pagi itu. Perjalanan menghabiskan kurang lebih 3-4 jam. Kami menempuh perjalanan dengan mobil pick up dengan kerangka penutup dibelakangnya, mobil yang paling banyak digunakan di Kangean . Sampai di rumah saudara yang kami tuju, kami melanjutkan pergi ke daerah Kangean yang paling ujung. Kami pergi ke daerah Pajenasem, daerah yang paling timur dari Kangean. Dari sinilah, saya bisa melihat Pulau Paliat dari dekat. Laut di sana masih bersih, bisa kita lihat dari warnanya. Biru dan hijau. Dan satu lagi, ini adalah pantai bebas, jadi semua orang bisa menikmati pantai ini tanpa harus bertemu tukang parkir maupun uang tiket masuk. Setelah asyik berfoto-foto di dermaga pantai Pajenasem, kami semua mencari tempat rindang untuk menikmati makanan yang telah dibawa dari rumah. Oiya, makanan yang khas dari Kangean adalah ikan pindang. Kalian harus mencoba ini kalau singgah di Pulau ini! Sedapnya menikmati makanan bersama-sama saudara. Tanpa malu-malu saya nambah makanan terus. Maknyuslah!



Setelah menikmati makan siang di Pajenasem, kami bergegas ke Pantai Patapan. Sebenarnya Pantai Pajenasem dan Patapan itu berada di satu tempat. Pantai Patapan, lebih dekat dengan Pulau Salarangan. Pemandangan dari Patapan lebih menarik daripada di Pajenasem. Dari sini, laut terlihat lebih luas dengan pulau-pulau yang ada disekitarnya. Dari Patapan, saya bisa melihat Pulau Salarangan, Paliat, bahkan Sapeken. Benar-benar indah. Pantainya lebih indah daripada Kuta. Tak heran Kangean dijuluki surga laut terindah di Indonesia. Pasirnya putih dan lautnya benar-benar biru kehijau-hijauan. Saya bahkan tak bisa melepas pandangan saya ke arah lain. Subhanallah! Kalau bukan karena disuruh pulang, mungkin saya sampai malam disitu. Saya penasaran bagaimana kelihatannya sunset dari pantai ini.


Sayangnya, kami harus pulang karena sudah mulai siang karena Mbah Jamal akan mengajak kami ke suatu tempat yang bernama Olbhe’. Olbhe’ merupakan suatu kolam air yang mempunyai mata air yang banyak. Olbhe` terletak di hutan yang sepi. Awalnya saya ragu-ragu untuk ikut mandi ke kolam itu. Akan tetapi, sepupu-sepupu saya membuat saya ngiler dengan berenang kesana kemari, saya akhirnya nyebur juga. Setelah asyik berenang layaknya ikan yang bertemu habitat baru, Mbah Jamal pun menculik kami (lagi) ke tempat wisata lain, Celegung. Namanya yang aneh kan? Cara baca Celegung adalah Celekhung. Celegung sangat ramah dikunjungi orang. Tunggu, apa itu Celegung? Celegung merupakan kolam berenang. Ini bukan kolam renang biasa. Kolam Celegung adalah daerah di luar pantai yang menyerupai seperti kolam, bukan kolam buatan, yang menjorok ke pantai. Dari anak-anak sampai orang tua tak ragu untuk berenang di Celegung. Setelah berenang di Celegung, kita bisa mencoba penthol (bakso) yang berjualan persis di depan Celegung. Rasa? Tidak diragukan lagi, Ajibbbbb ! Boleh saya katakan jangan pernah merasa pernah ke Kangean kalau tidak pernah mencoba penthol Kangean dan tentu saja ikan pindangnya. Hari telah beranjak sore. Setelah lahap menikmati dua porsi penthol bakso, kami kembali ke Arjasa. Hari itu benar-benar sangat menyenangkan bagi saya. Sehari penuh saya jalan-jalan terus!

Seminggu penuh saya telah habiskan untuk mengenal keluarga saya yang berasal dari Madura. Meski, beberapa telah pindah ke Kota Sumenep, Kangean merupakan asal muasal keluarga saya. Orang tua bapak saya, Mbah Kakung dan Mbah Boeriyan, merupakan orang Kangean asli. Setelah berpamitan dengan keluarga besar, dengan berat hati saya kembali pulang ke Sumenep. Saya akan kembali kesini lagi. Bagaimanapun ini adalah tanah leluhur dan saya tidak boleh melupakan asal-usul saya sendiri. Anyway, pengalaman backpacking berharga sekali bagi saya. Banyak hal-hal yang tidak kita bisa dapat dari teori belaka, namun dapat diperoleh dengan melakukan perjalanan. Kamu masih muda dan habiskan masa mudamu dengan melihat dunia yang luas ini. So, try to backpacking and reach more experiences!

*Agustus akhir, ketika masih di Bekasi, saya kaget melihat tajuk dari salah satu harian ibukota yang memuat judul Laut Kangean Tercemar (Republika, ed. 31 Agustus 2010). Kapal minyak MT Gagasan Perak meledak dan mencemari perairan Sapeken. Saya sangat menyayangkan kejadian itu karena wisata bahari Kangean akan tercemar, seperti pantai Pajenasem maupun Patapan yang tak jauh dari Sapeken. Sedangkan untuk memulihkan suatu perairan laut yang tercemar, dibutuhkan konsistensi dan waktu yang sangat lama. Pemerintah harus menunjukkan atensi yang lebih untuk kasus ini, kalau tidak nasibnya akan sama seperti Lapindo, tidak terselesaikan sampai sekarang.

19 Apr 2009

hari itu.
gue abis dari Giant, pergi ke RSUD buat cek darah.
nyak gw udah panik setengah mati ngeliat kulit gw merah-merah.
biasa emak gw lebay,

katanya DBDlah.
katanya campaklah.
katanya cacarlah.

padahal emang kulit gue emang merah" darai sononyo.

jadilah gue cek darah.

pas nyampe ke lab, gue agak takut tuh sama jarum suntik.
mana yang ngambil darah gw, terlihat kurang meyakinkan pula.

dia ngambil darah di tangan kanan gw.

pas pake pengencang tangan, di elus" pake alkohol,
tanpa ragu dia langsung masukin suntikan.
gue tereakkk. " Haduhhhh, jangan ..jangannn!!"
'masa anak dokter takut jarum suntik?'
lha. darahnya kok ga keluar"?
alhasil dia jadi keluar masukin tuh jarum suntik,
keluarrr.MASUK.keluar.MASUK.
HISTERISlah gue!!
AAHHHHHHHHHHH!!
siall. gagal ngambil darah di tangan kanan.
darahnya ternyata mampet gak keluar.

dia nyengir kuda doang. [ sial!]

terus dalihnya gue jarang kerja, jadi uratnya tipis", jadi susah dapet uratnya.
what??
[bilang aja lo gak profesional]

lalu dicoba ditangan kiri
gw merem-merem...
ahhhh.
ternyata kayak digigit semut.
darah gw diambil banyak. hiks.
ini mah sama kayak jumlah darah yang diisep seribu nyamuk.

****************************************

pas mau pulang,
gue bareng si ginong[ade gw], nemenin nyokap ngurusin kerjaannya di RSUD.
biasa ngurusin JAMKESMAS[jaminan kesehatan masyarakat] untuk orang yang kurang mampu.

pas pulang dari sana,
tiba" ada ibu" yang nyegat nyak gw,
'Bu dokter, saya udah cari kemana-mana obat ini, tapi gak ketemu, gimana ni, dok?'
'Masa sih di RSUD ini gak ada, padahal kan ini obat JAMKESMAS? nanti coba saya cek dulu ke apotek'
nyak gw langsung bergegas ke apotek buat ngebantuin ibu" itu.

sambil nungguin nyak ngurusin itu, gw + ade gw duduk di ruang tunggu,
si ibu duduk disebelah ade gw.
mukanya manyun lemes[ML] gitu.

trus dia tiba" ngomong ke kita berdua, 'Haduh neng, bayangin, masa saya udah keliling apotek, gak ketemu-ketemu obatnya? bayi saya yang umurnya dua minggu butuh banget obat ini.'

kita berdua langsung sedih dengernya dan bersimpati. Berarti dia baru melahirkan 2 minggu. tapi sekarang demi anaknya, dia cari obat pontang-panting gara" anaknya sakit.
'sabar ya bu, mungkin nanti ada obat penggantinya. Ibu saya lagi nyariin. mudah"an ada', kata gw menenangkan.

tiba" dia beralih topik, `bu dokter orang mana ya? orang Padang, Ujung pandang, atau Jawa?'
kata adek gw, 'kalo mama sih, blasteran bu. Blasteran PADANG-AMBON. tapi lama tinggal di Surabaya dan Ujung Pandang`.
`kalo bapak?' "Madura Asli Taiye, bu`. `Rumit ya keturunannya?`, katanya sambil senyum-senyum. Terus dia juga mulai cerita asalnya darimana. kita mulai akrab sambil cerita" asalnya. keliatan banget ini ibu cepet begaulnya.

enggak lama kemudian, si nyak dateng terus cuap" sma si ibu. Gw dan si ginong langsung pergi pamit dari ibu itu, langsung pengen cepet" ke arah mobil. Terus pas dimobil, terus ibu itu dapet gak obatnya? 'Obatnya terpaksa diganti dengan yang lain. '
Kamu tau gak dia sakit apa?'
'yang sakit anaknya kan?'

'Tapi dia juga sakit. sakit AIDS.'
'HAH?'

gw langsung sedih dengernya. 'Gara-gara itu, anaknya jadi kompilikasi kelainan. sakit apalah.'
'Terus dia tau gak kalo dia AIDS?'
'Belum. mana dia ngelahirin di sini, objinnya seharusnya harus tau sebelumnya. Jadi anaknya bisa gak kena AIDS.'

ckckck.
lagi" kesalahan medis yang memperburuk keadaan.
saya jadi kesal sekali sama rumah sakit ini.
seharusnya mereka lebih teliti terhadap keadaan pasien.

'Pasti tuh dari bapaknya. Bapaknya jajan tuh.', celoteh nyak mengira-ngira. Saya jadi kesal. kesal dengan lelaki seperti itu. [padahal belum tentu itu penyebabnya, tapi saya sudah berasumsi seperti itu.]

andaikan ternyata benar asumsi seperti itu,
gw bener" benci banget sama bapak" itu.

Si bapak nafsunya gak ditahan,
Pulang ke rumah, berbuat, si ibu ketularan,
nanam benih, nyimpan jabang di peranakan
mahluk suci si jabang jadi sakit-sakitan.

kasian si jabang yang mau lahir
kasian si jabang yang nggak salah menanggung dosa dari perbuatan yang dia gak perbuat.
kasian si jabang mahluk kecil.
kasian si jabang yang gatau apa-apa.

Dalam hati,
saya berdoa untuk si Ibu.
Mudah-mudahan Tuhan memberikan jalan yang terbaik untuknya.
God bless you, Bu, semoga anaknya cepet sembuh.
 

Copyright 2010 a piece of mind.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.